Thursday, October 17, 2013

Keutamaan Masjid Quba

 republika.co.id

Keutamaan Masjid Quba

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah pembangunan masjid ini selesai, Rasulullah SAW selalu mengimami shalat di masjid bersejarah itu selama 20 hari.

Setiap hari Sabtu, Senin, dan Kamis, Rasulullah selalu mengunjungi masjid ini. Yaitu, masjid yang dibangun pertama kali dengan tangannya sendiri.

Shalat di Masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut hadis yang diriwayatkan Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah.”

Dalam Alquran pun hal yang sama diungkapkan, tepatnya pada surah at-Taubah ayat 108. Dalam surat tersebut dijelaskan, “.…Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

Laman Saudi Gazette menuliskan renovasi terus dilakukan pada Masjid Quba. Beragam proyek besar dilakukan, salah satunya adalah membuat fasilitas untuk menghubungkan Masjid Quba dengan Masjid Nabawi melalui Quba Road.

Mulai tahun depan, Pemerintah Arab Saudi akan mengakuisisi tanah-tanah yang akan termakan oleh proyek ini. Nantinya, jika proyek tersebut selesai, pintu gerbang Masjid Nabawi bisa dilihat langsung dari Masjid Quba.

Saat ini, Masjid Quba memiliki 19 pintu dengan tiga pintu utama yang ukurannya lebih besar. Dari tiga pintu ini, dua pintunya diperuntukkan keluar masuk jamaah laki-laki dan satu pintu untuk jamaah perempuan.

Selain tempat untuk melakukan shalat berjamaah, banyak fasilitas lain yang ada dalam masjid ini. Salah satunya adalah tempat untuk belajar mengajar tentang Islam. n ed: fitria andayani

Jamaah Bercukur Sembarangan Berisiko Tertular Penyakit

 republika.co.id

Jamaah Bercukur Sembarangan Berisiko Tertular Penyakit

Jamaah Bercukur Sembarangan Berisiko Tertular Penyakit

Tahalul, mencukur rambut.

REPUBLIKA.CO.ID, MINA -- Tiap tahun, ratusan tukang cukur paruh waktu tanpa izin resmi membanjiri kota suci Mina. Mereka tumpah ruah untuk melakukan ritual haji terakhir, yakni mencukur rambut jamaah haji.

"Saya mencukur rambut karena ini adalah perintah Nabi Muhammad saw. Saat ini udara sangat panas, jadi mencukur rambut bukan gagasan yang buruk," ujar jamaah haji asal Yaman Mohamed Hassan saat akan dicukur dengan menggunakan pisau. Sambil mengusap darah yang mengalir di kepalanya dengan tangan, Hassan mengatakan Allah akan melindungi dirinya dan jamaah haji lain.

Para tukang cukur ini menggunakan pisau cukur yang sama bagi puluhan jamaah haji. Hal ini menjadikan praktik mereka berisiko dalam penyebaran penyakit. Praktik mencukur seperti ini coba dihentikan kementerian kesehatan Arab Saudi selama bertahun-tahun. Para tukang cukur ini mampu menghindari penahanan dengan mengatakan mereka adalah kerabat kliennya dan mengaku tidak menerima upah mencukur.

Tahun ini, pihak berwenang memasang iklan besar-besaran di televisi dan radio berisi peringatan mengenai potensi bahaya kesehatan mencukur rambut sembarangan. Mereka juga membawa tukang cukur berlisensi dari seluruh negeri ke Mina. Selain itu, mereka juga memasang poster, seperti biasa.

Hal ini bukannya tanpa hambatan. Pemilik salon berlisensi di Mina mengatakan para jamaah haji memiliki dana yang terbatas.. Sedikitnya 60 persen jamaah haji mempercayakan pencukuran rambut mereka kepada tukang cukur tidak resmi atau mencukur rambut mereka sendiri.

"Saya tidak mampu membayar apa pun melebihi 10 saudi riyal (2,7 dolar AS). Tukang cukur yang direkomendasikan pemerintah harganya mahal," ujar seorang pekerja pabrik dari Mesir, Salam Assem, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (16/10).

Pejabat kementerian kesehatan mengatakan sulit mengetahui berapa banyak jamaah yang tertular penyakit akibat pemakaian pisau cukur yang sama. Sebabnya, jamaah kembali ke negara masing-masing. Hal ini menyulitkan pengumpulan data dan koordinasi. Namun, kekhawatiran penularan penyakit sangat nyata.

Satu penelitian pada 2008 yang diterbitkan dalam Jurnal Infeksi dan Kesehatan Publik terdapat daftar panjang penyebab tekanan ekstrem, misalnya udara panas, sengatan matahari, rasa haus, padatnya orang, kepadatan lalu lintas, licinnya jalanan dan jalan yang tidak rata.

Inilah Amalan yang Perlu Dilakukan Selama Mabit di Mina

 republika.co.id

Inilah Amalan yang Perlu Dilakukan Selama Mabit di Mina

Inilah Amalan yang Perlu Dilakukan Selama Mabit di Mina

Jamaah haji sedang mabit di Mina.

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum Wr Wb

Ustaz, amalan apa yang harus dilakukan selama mabit di Mina ?

Hamba Allah

Cianjur, Jawa Barat

Jawab:

Waalaikumussalam Wr Wb

Amalan selama mabit di Mina pada hari nahar dan tasyrik adalah:

Pertama, melontar Jumroh ‘ Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Waktu utama dalah dhuha. Namun dibolehkan hingga terbenam matahari. Jika ada uzur syar’i sehingga melewati waktu itu, tidak mengapa melontar setelah terbenam matahari. Caranya melontar 7 (tujuh) buah kerikil dengan bertakbir pada tiap lontarannya. Lalu berdoa menghadap kiblat “Allahummaj’alhu hajjan mabruuron wa dzanban maghfuuron” (Ya Allah jadikanlah haji ini mabrur dan dosa yang diampuni).

Kedua, ber-tahallul. Mencukur rambut baik dengan memendekkan maupun menggunduli. Gundul lebih utama dibandingkan cukur pendek. Nabi mendoakan 3 kali bagi yang dicukur habis (gundul) dan mendo’akan satu kali bagi yang hanya memendekkan. Sedangkan untuk wanita cukuplah ber-tahallul dengan memotong beberapa helai rambutnya saja.

Ketiga, Jika memungkinkan pada tanggal 10 Dzulhijjah tersebut jama’ah berangkat ke Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadhah beserta sa’i. Jika berat untuk dilakukan, dibolehkan menunda pelaksanaan thawaf ifadhah tersebut hingga akhir hari tasyrik, bahkan sebagian Ulama membolehkan sampai akhir Dzulhijjah.

Keempat, menyembelih hewan hadyu pada hari nahar (10 Dzulhijjah)  ataupun hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Al Hadyu adalah “bahiimatul an’am” binatang ternak seperti unta, sapi, dan domba yang disembelih karena Allah dalam rangka haji. Binatang tersebut suka diberi kalung sebagai tanda, karenanya disebut juga “Al Qalaid” artinya binatang berkalung.

Kelima, melontar Jumroh Ula, Wustho, dan ‘Aqabah di hari-hari tasyrik. Setiap hari melontar 3 kali 7 batu. Caranya di Ula jama’ah melontar 7 buah batu, setiap lontaran bertakbir “Allahu Akbar” boleh juga “Bismillahi Allahu Akbar”. Lalu menghadap ke arah Ka’bah  berdo’a “Allahummahaj’alhu hajjan mabruuron wa dzanban maghfuuron”. Di Wustho juga demikian melontar 7 buah batu dengan takbir dan berdo’a sama sebagaimana saat di Ula. Sedangkan di ‘Aqabah  jamaah setelah melontar 7 buah batu, tidaklah berdo’a menghadap Kiblat lagi, melainkan langsung berlalu saja. Kembali ke kemah.

Keenam, selama berada di kemah, maka jamaah melakukan berbagai kegiatan seperti shalat di jama qashar, membaca Quran, berzikir, ataupun mendengarkan taushiyah dari para pembimbingnya.

Demikian amalan selama mabit  di Mina. Bagi mereka yang mengambil nafar awwal maka pada tanggal 12 Dzulhijjah, sebelum maghrib jama’ah telah meninggalkan Mina menuju Makkah. Sedangkan bagi yang mengambil nafar tsani barulah pada tanggal 13 Dzulhijjah jama’ah itu kembali ke Makkah. 

HM Rizal Fadillah
Pembimbing Haji/Umrah dan Pimpinan SYARAFA Tour & Travel Bandung

  Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Mina Berubah Warna-Warni Usai Pelaksanaan Haji

 republika.co.id

Mina Berubah Warna-Warni Usai Pelaksanaan Haji

Mina Berubah Warna-Warni Usai Pelaksanaan Haji

Jamaah haji setelah melakukan lempar jumrah di Mina

REPUBLIKA.CO.ID, MINA -- Kota seribu tenda, Mina tiba-tiba diselimuti aneka warna, Rabu (16/10). Usai menyelesaikan ibadah haji, ribuan jamaah mengenakan pakaian tradisional mereka yang berwarna terang dan mencolok.

Jamaah yang mengenakan pakaian tradisional ini terutama berasal dari Afrika, Indonesia dan Pakistan. Kegembiraan  terpancar jelas begitu jamaah menyelesaikan ritual wajib melempar jumrah. Jamaah akan kembali melempat jumrah, Kamis sebelum meninggalkan Mina.

Tidak tampak kelelahan atau stres di wajah jamaah. Mereka berjalan kaki menuju kompleks untuk melempar jumrah dengan senyum. Wajah mereka tampak cerah.

Banyak di antara mereka yang menyempatkan waktu berfoto dan menelepon kerabat mereka di rumah saat Hari Raya Idul Adha. Beberapa juga tampak berbagi kegembiraan dengan sesama jamaah. Para petugas haji yang berseragam juga merayakan kegembiraan dan mengucapkan selamat kepada para jamaah.

"Kami sangat senang sampai tidak mampu berkata-kata. Saya tidak percaya akhirnya bisa melakukan ritual ini. Tampak menakutkan pada awalnya, tapi cukup mudah saat pelaksanaannya. Ini berkat pengaturan yang menakjubkan," ujar salah satu jamaah dari Alexandria, Mesir Nabila Hasan, seperti dilansir Arab News, Kamis (17/10).

Petugas keamanan tetap waspada di sepanjang trotoar pejalan kaki dan tidak mengizinkan siapa pun masuk ke barisan jamaah. Rumah sakit banyak menangani jamaah haji yang terbakar sinar matahari dan kelelahan karena terus berjalan kaki.

Kereta haji yang sekarang menjadi moda transportasi pilihan tahun ini terus mengangkut jamaah haji dari ujung kota menuju kompleks pelemparan jumrah. Banyak orang menggambarkan pelaksanaan ibadah haji tahun ini paling sukses dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Komando dan Pusat Kontrol untuk Keamanan Haji Mayjen Abdullah Al-Zahrani mengatakan, kesuksesan ini didasarkan pada dua faktor. Yaitu, berkurangnya jumlah jamaah dan implementasi rencana keamanan yang benar.

"Kami memasang dan bereksperimen dengan kamera yang sangat canggih untuk pertama kalinya tahun ini dan ini telah terbukti berhasil," ujarnya.

Pusat tersebut memsang lebih dari lima ribu kamera untuk memantau semua tempat-tempat suci. Termasuk 1.200 di Masjidil Haram. Pusat komando di Mina memiliki banyak layar televisi untuk menerima video langsung selama 24 jam di tempat-tempat suci.

Didukung oleh tiga helikopter, pusat komando dapat dengan cepat menemukan wilayah yang bermasalah dan menginformasikannya ke badan-badan keamanan.

  Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Melontar Jumrah

 republika.co.id

Melontar Jumrah

Melempar jumrah di Mina. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustaz, kapan sebaiknya waktu terbaik melempar jumrah?

Eka di Tangerang

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Mulai 10 hingga 13 Dzulhijah jamaah haji akan berada di Mina, kecuali mereka yang mengambil Nafar Awal (berangkat pada rombongan pertama yang meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijah).

Selama beberapa hari itu, seluruh jamaah melakukan mabit(bermalam/menginap) di sana seraya memperbanyak ibadah dantakarub kepada Allah Yang Mahakuasa.

Tak kalah pentingnya, ada satu ritual yang statusnya wajib dilakukan setiap jamaah yang tidak berhalangan kondisi fisiknya. Aktivitas itu adalah melontar jumrah.

Dan, melontar jumrah adalah salah satu ibadah wajib bagi jamaah haji yang menguras fisik dan tak jarang menimbulkan risiko bagi keselamatan mereka.

Melontar jumrah (ramyul jimaar) dimulai setelah matahari tergelincir waktu Zhuhur. Rentang masa diperbolehkannya melontar jumrah ini hingga tengah malam. Bagi jamaah haji Indonesia, sebaiknya mengikuti petunjuk maktab atau ketua rombongan.

Karena, mereka lebih tahu kapan waktu yang tepat dan aman bagi jamaah haji Indonesia yang secara umum bertubuh lebih kecil dari pada bangsa lain. Jangan pernah hendak mengambil keutamaan ibadah (afdhaliyah), tapi tidak memikirkan keselamatan jiwa!

Abdullah bin Umar Ra pernah ditanya seorang pria, “Kapankah sebaiknya aku melontar jumrah?” Abdullah menjawab, "Jika imam (pimpinanmu) melakukannya maka ikutilah!” Orang itu masih mengejar, “Tapi kapan waktunya?” Abdullah menjawab, “Dulu, kami melakukannya bila matahari zawal (sudah tergelincir).” (HR Bukhari 1746).

Dari hadis ini, Abdullah bin Umar Ra hendak memberitahukan hal terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji adalah mengikuti petunjuk imam (pemimpin rombongan), apalagi saat berada di Mina. Mengikuti petunjuk pimpinan rombongan amat diperlukan demi keselamatan.

Adapun tata cara jumrah seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah; pertama, tertib dan berurutan.

Jumrah dimulai dari Ula, Wustha, dan Aqabah. Hal ini harus dilakukan secara berurutan. Siapa yang melakukannya tanpa mengikuti aturan yang benar maka jumrahnya tidak sah.

Kedua, menggunakan batu kerikil (hisha). Batu yang diperkenankan adalah kerikil sebesar buku jari. Tidak boleh menggunakan batu besar, khawatir mencelakai orang lain.

Jumlah batu yang diperlukan bagi mereka yang Nafar Awal adalah 49 batu, sedangkan mereka yang Nafar Tsani memerlukan 70 batu.

Ketiga, mengucap takbir setiap kali melontar. Keempat, melontar kerikil tujuh kali pada setiap jumrah. Mengucap takbir dan melontar kerikil ini seperti yang diriwayatkan Ibnu Umar Ra pada hadits Bukhari 1751.

Kelima, batu kerikil harus tepat mengenai tugu jumrah dan masuk ke dalam lubang. Keenam, berdoa setiap kali menyelesaikan lontaran pada setiap jumrah.

Ketujuh, melontar dengan memosisikan Mina ada di sebelah kanan dan Baitullah di sebelah kiri tubuh. Hal ini seperti terdapat dalamShahih Bukhari 1748.

Demikianlah tuntunan amal melontar jumrah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Semoga, setiap amal yang dilakukan jamaah haji akan mendapatkan qabul dan balasan dari Allah Yang Mahapemurah. Amin!

Ustaz Bobby Herwibowo

Semangat Kurban dari Cina Sampai Sukabumi

 republika.co.id

Semangat Kurban dari Cina Sampai Sukabumi

REPUBLIKA.CO.ID, -- Kemeriahan Idul Adha tidak hanya terjadi di negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Ribuan umat Muslim di Cina merayakan Idul Adha 1434 H. Mereka menyembelih sapi, kambing, dan domba seusai melaksanakan shalat Idul Adha di berbagai lokasi.

Di Beijing, ratusan warga Muslim menjalankan shalat Idul Adha di Masjid Niujie, masjid tertua dan terbesar Ibu Kota Cina itu, dan sejumlah masjid lainnya. Ada 68 masjid di Beijing.

Seusai menjalankan shalat, warga Muslim berkumpul di halaman luar masjid melakukan pemotongan hewan kurban. Kemudian, dagingnya dibawa dan dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan sesama Muslim yang kurang beruntung.

Umat Muslim Uigur di wilayah otonomi khusus Xinjiang dan Hui di daerah otonomi Ningxia juga merayakan Idul Adha dengan menggelar Festival Kurban.

Beberapa umat Muslim di Yinchuan, Ibu Kota Ningxia, bergegas ke masjid sambil membawa hewan kurbannya sejak pagi. Festival Kurban ditandai dengan makan daging kambing kurban bersama keluarga.

“Meski keempat anak kami sedang tidak bersama saat ini, tetapi kami tetap menyediakan daging kambing hasil kurban untuk mereka bawa pulang ke rumah masing-masing jika mereka tiba nanti,” kata Zhang Xueyi (65 tahun), seperti dikutip media setempat.

Pemerintah daerah Xinjiang dan Ningxia secara khusus memberikan libur bagi umat Islam selama lima hari sejak Selasa (15/10). Pemerintah setempat juga membebaskan biaya jalan bebas hambatan untuk mendukung umat Muslim mengunjungi kerabatnya.

Di kotapraja Minxian dan Zhangxian, Provinsi Gansu, sekitar 400 umat Muslim menyemarakkan Idul Adha. Mereka menghidangkan beragam kuliner tradisional lengkap dengan hidangan daging domba.

Di Cina terdapat sekitar 20 juta Muslim, yang terdiri atas 10 etnis. Dari 10 etnis itu yang paling besar populasinya adalah Uigur, Hui, dan Kazakh.

Kebiasaan kurban di Cina tidak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Masyarakat di Indonesia juga kerap makan daging kurban bersama keluarga. Meski demikian, ada pergeseran pihak yang berkurban di Indonesia.

Kurban tidak lagi didominasi oleh orang-orang berkocek tebal. Mereka yang tergolong sebagai mustahik ternyata juga ikut berkurban. Tahun ini, pengorbanan kaum dhuafa ditunjukkan oleh nenek Sahati Wati.

Perempuan asal Sukabumi yang bekerja sebagai pemulung ini mengumpulkan uang selama lebih dari 7 tahun untuk membeli seekor kambing seharga Rp 2 juta.

Bambang, tukang becak di Kota Pasuruan, berkurban seekor sapi seharga Rp 13 juta. Untuk menunaikan niat berkurbannya ini, dia harus menabung selama 10 tahun.

Nenek Sahati dan Bambang mengingatkan pada hal serupa yang dilakukan pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai pemulung, Yati dan Maman. Tahun lalu, mereka memilih berkurban dua ekor kambing ke panitia kurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan.

Yati dan suaminya tinggal di sebuah gubuk reyot, di tempat sampah di Tebet, menyisihkan Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per hari untuk membeli dua ekor kambing. Keinginan untuk berkurban karena Yati dan suaminya malu harus antre jatah kambing tiap tahun.

Yati dan suaminya pun memutuskan untuk berkurban dengan menabung dari hasil memulung. Setelah tiga tahun, mereka pun bisa membeli dua ekor kambing seharga masing-masing Rp 1 juta dan Rp 2 juta.

Semangat para dhuafa untuk berkurban ini dinilai sebagian kalangan menunjukkan sebuah kesungguhan dari pelaksanaan ibadah.

Menurut Ustaz Yusuf Mansur, ketika banyak orang berpunya tidak mau mengeluarkan uang untuk beribadah, ternyata ada sebagian dhuafa yang bersusah payah mendapatkan ketakwaan dari Allah SWT. “Alhamdulillah masih ada umat yang tidak mau berpangku tangan,” kata dia.

Berkah Idul Adha di Indonesia juga tidak hanya datang dalam bentuk daging merah, tapi juga kertas koran yang dijadikan alas ketika shalat Id.

Sejumlah pemulung di Kota Bekasi, Jawa Barat, bersemangat memungut kertas koran bekas di pelataran Masjid Agung Al-Barkah. “Saya berharap di Hari Raya Idul Adha ini ada penghasilan tambahan,” ujar Nur Rahmawati (57 tahun) kepada Republika.

Sementara itu, pelaksanaan shalat Idul Adha 1434 Hijriah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sedikit terganggu kabut asap kebakaran lahan yang kembali muncul.

Kabut asap terlihat cukup pekat sampai sekitar pukul 06.00 WIB, ketika umat Islam di daerah itu berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Id.

Bahkan, beberapa jamaah perempuan terlihat menutup hidung mereka menggunakan mukena. Di darat, jarak pandang diperkirakan kurang dari 200 meter.

Kabut asap cukup pekat terlihat di perairan Sungai Mentaya yang terlihat hanya hitungan puluhan meter sehingga cukup mengganggu masyarakat pengguna transportasi air.

Kabut asap cukup cepat berkurang ketika warga pulang dari masjid sekitar pukul 07.00 WIB. Tiupan angin cukup membantu menghilangkan kabut asap sehingga jarak pandang kembali normal. Kabut asap itu disebabkan kebakaran lahan di wilayah setempat.

“Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang membakar lahan bahwa tindakan mereka itu dapat menyusahkan orang banyak dan bisa mengancam kesehatan masyarakat,” kata Rusdin, warga setempat.

Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, (( QS.An Anfaal 8 : 53 ))

Haji Bernilai HAM

 republika.co.id

Haji Bernilai HAM

AFP

Jamaah haji setelah melakukan lempar jumrah di Mina

Jamaah haji setelah melakukan lempar jumrah di Mina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Haji bukan sekadar ibadah. Rukun islam kelima ini mengandung nilai hak asasi manusia atau HAM. Rasulullah SAW saat melakukan ibadah haji terakhir menyerukan saling menghormati dan saling tolong menolong sesama manusia.

"Apa yang dikatakan Rasulullah saat beliau berhaji terakhir sangat penting bagi hak asasi manusia," jelas Pimpinan Pondok Pesantren Sinar Islam, Ustaz Veri Muhlis Arifuzaman, kepada ROL, Kamis (17/10).

Ustaz Veri menjelaskan, sabda Rasulullah ketika haji wada menujukkan darah dan harta seorang Muslim tidak boleh dirusak, karena keduanya adalah kemuliaan yang harus dijaga.

Selain itu, Rasulullah menjelaskan tidak adalagi transaksi riba. Veri menjelaskan, semenjak haji wada' itu umat Islam diharuskan bertransaksi secara Islami sesuai dengan konsep ekonomi Islam yang berdimensi sosial.

Rasulullah, jelas Veri, juga memaparkan pentingnya berakhlak mulia. Umat Islam harus saling tolong menolong, saling membantu, tidak boleh egois.

Kepada tetangganya tidak boleh acuh tak acuh. Jika orang sekelilingnya sakit maka harus dibantu. "Setan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik," sabda Rasulullah seperti dituturkan Veri.

Rasulullah juga menyerukan untuk menghormati wanita. Beliau, jelas Veri, meminta umat Islam memperlakukan kaum hawa sesuai dengan amanah Allah SAW dan menjaga kehormatan.

Reporter : Erdy Nasrul
Redaktur : Karta Raharja Ucu

Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Baqarah [2]:110)