Semangat Kurban dari Cina Sampai Sukabumi
REPUBLIKA.CO.ID, -- Kemeriahan Idul Adha tidak hanya terjadi di negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Ribuan umat Muslim di Cina merayakan Idul Adha 1434 H. Mereka menyembelih sapi, kambing, dan domba seusai melaksanakan shalat Idul Adha di berbagai lokasi.
Di Beijing, ratusan warga Muslim menjalankan shalat Idul Adha di Masjid Niujie, masjid tertua dan terbesar Ibu Kota Cina itu, dan sejumlah masjid lainnya. Ada 68 masjid di Beijing.
Seusai menjalankan shalat, warga Muslim berkumpul di halaman luar masjid melakukan pemotongan hewan kurban. Kemudian, dagingnya dibawa dan dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan sesama Muslim yang kurang beruntung.
Umat Muslim Uigur di wilayah otonomi khusus Xinjiang dan Hui di daerah otonomi Ningxia juga merayakan Idul Adha dengan menggelar Festival Kurban.
Beberapa umat Muslim di Yinchuan, Ibu Kota Ningxia, bergegas ke masjid sambil membawa hewan kurbannya sejak pagi. Festival Kurban ditandai dengan makan daging kambing kurban bersama keluarga.
“Meski keempat anak kami sedang tidak bersama saat ini, tetapi kami tetap menyediakan daging kambing hasil kurban untuk mereka bawa pulang ke rumah masing-masing jika mereka tiba nanti,” kata Zhang Xueyi (65 tahun), seperti dikutip media setempat.
Pemerintah daerah Xinjiang dan Ningxia secara khusus memberikan libur bagi umat Islam selama lima hari sejak Selasa (15/10). Pemerintah setempat juga membebaskan biaya jalan bebas hambatan untuk mendukung umat Muslim mengunjungi kerabatnya.
Di kotapraja Minxian dan Zhangxian, Provinsi Gansu, sekitar 400 umat Muslim menyemarakkan Idul Adha. Mereka menghidangkan beragam kuliner tradisional lengkap dengan hidangan daging domba.
Di Cina terdapat sekitar 20 juta Muslim, yang terdiri atas 10 etnis. Dari 10 etnis itu yang paling besar populasinya adalah Uigur, Hui, dan Kazakh.
Kebiasaan kurban di Cina tidak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Masyarakat di Indonesia juga kerap makan daging kurban bersama keluarga. Meski demikian, ada pergeseran pihak yang berkurban di Indonesia.
Kurban tidak lagi didominasi oleh orang-orang berkocek tebal. Mereka yang tergolong sebagai mustahik ternyata juga ikut berkurban. Tahun ini, pengorbanan kaum dhuafa ditunjukkan oleh nenek Sahati Wati.
Perempuan asal Sukabumi yang bekerja sebagai pemulung ini mengumpulkan uang selama lebih dari 7 tahun untuk membeli seekor kambing seharga Rp 2 juta.
Bambang, tukang becak di Kota Pasuruan, berkurban seekor sapi seharga Rp 13 juta. Untuk menunaikan niat berkurbannya ini, dia harus menabung selama 10 tahun.
Nenek Sahati dan Bambang mengingatkan pada hal serupa yang dilakukan pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai pemulung, Yati dan Maman. Tahun lalu, mereka memilih berkurban dua ekor kambing ke panitia kurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan.
Yati dan suaminya tinggal di sebuah gubuk reyot, di tempat sampah di Tebet, menyisihkan Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per hari untuk membeli dua ekor kambing. Keinginan untuk berkurban karena Yati dan suaminya malu harus antre jatah kambing tiap tahun.
Yati dan suaminya pun memutuskan untuk berkurban dengan menabung dari hasil memulung. Setelah tiga tahun, mereka pun bisa membeli dua ekor kambing seharga masing-masing Rp 1 juta dan Rp 2 juta.
Semangat para dhuafa untuk berkurban ini dinilai sebagian kalangan menunjukkan sebuah kesungguhan dari pelaksanaan ibadah.
Menurut Ustaz Yusuf Mansur, ketika banyak orang berpunya tidak mau mengeluarkan uang untuk beribadah, ternyata ada sebagian dhuafa yang bersusah payah mendapatkan ketakwaan dari Allah SWT. “Alhamdulillah masih ada umat yang tidak mau berpangku tangan,” kata dia.
Berkah Idul Adha di Indonesia juga tidak hanya datang dalam bentuk daging merah, tapi juga kertas koran yang dijadikan alas ketika shalat Id.
Sejumlah pemulung di Kota Bekasi, Jawa Barat, bersemangat memungut kertas koran bekas di pelataran Masjid Agung Al-Barkah. “Saya berharap di Hari Raya Idul Adha ini ada penghasilan tambahan,” ujar Nur Rahmawati (57 tahun) kepada Republika.
Sementara itu, pelaksanaan shalat Idul Adha 1434 Hijriah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sedikit terganggu kabut asap kebakaran lahan yang kembali muncul.
Kabut asap terlihat cukup pekat sampai sekitar pukul 06.00 WIB, ketika umat Islam di daerah itu berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Id.
Bahkan, beberapa jamaah perempuan terlihat menutup hidung mereka menggunakan mukena. Di darat, jarak pandang diperkirakan kurang dari 200 meter.
Kabut asap cukup pekat terlihat di perairan Sungai Mentaya yang terlihat hanya hitungan puluhan meter sehingga cukup mengganggu masyarakat pengguna transportasi air.
Kabut asap cukup cepat berkurang ketika warga pulang dari masjid sekitar pukul 07.00 WIB. Tiupan angin cukup membantu menghilangkan kabut asap sehingga jarak pandang kembali normal. Kabut asap itu disebabkan kebakaran lahan di wilayah setempat.
“Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang membakar lahan bahwa tindakan mereka itu dapat menyusahkan orang banyak dan bisa mengancam kesehatan masyarakat,” kata Rusdin, warga setempat.
No comments:
Post a Comment