Friday, October 25, 2013

Resep Sate Kambing H.Sadjim

 female.kompas.com

Resep Sate Kambing H.Sadjim

Resep Sate Kambing H.Sadjim

Rabu, 9 Oktober 2013 | 09:22 WIB

BANGO Sate Kambing

Foto:

KOMPAS.com - Bahan :
500 gr daging kambing, potong dadu (jangan hilangkan gajih-nya)

Bumbu celup:
50 gram buah nanas setengah matang, parut halus
100 gr kacang tanah, goreng dan haluskan
2 sdm kecap manis

Bumbu kecap:
10 cabai rawit merah
10 bawang merah, iris halus
2 buah tomat merah, potong kasar
5 sdm kecap manis

Cara membuat:
1. Bumbu celup: Campur semua bahan jadi satu dan aduk rata. Sisihkan.
2. Bumbu kecap: Ulek cabe rawit merah dan letakkan di mangkuk. Campur dengan bawang merah dan tomat ke dalamnya. Tambahkan dengan kecap manis. Aduk rata.
3. Sate kambing: Rendam daging kambing dalam bumbu celup selama 5 menit. Tusuk daging kambing, selingi dengan gajih. Kemudian tusuk dengan tusuk sate yang sudah direndam air. 
4. Bakar sate sampai matang. Sajikan dengan sambal kecap dan nasi putih hangat.

Resep : Sate Kambing H.Sadjim untuk Kecap Manis Bango

Penulis :

Christina Andhika Setyanti

Editor :

Lusia Kus Anna

Shalat di dalam Ka’bah, Apa Hukumnya?

Shalat di dalam Ka’bah, Apa Hukumnya?

Jumat, 25 Oktober 2013, 14:29 WIB
Komentar : 0
 Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10).  (Hassan Ammar/AP)
Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya shalat di dalam Ka’bah, termasuk juga dengan di atas Ka’bah. Masalahnya adalah apakah shalat di dalam atau di atas Ka’bah itu bisa dianggap menghadap kiblat? Disamping itu terdapat pula hadis-hadis yang berbeda dalam masalah ini.

Sebagian ulama membolehkan shalat di dalam Ka’bah, sebagian ulama melarangnya. Sedangkan sebagian ulama lainnya membolehkan shalat sunat dan melarang shalat fardhu di dalam Ka’bah. 

Ulama yang membolehkan shalat di dalam Ka’bah berpedoman kepada hadis dari lbnu ‘Umar yang mengatakan, “Saya melihat Rasulullah SAW memasuki Ka’bah bersama Usamah bin Zaid, Utsman bin Thalhah, dan Bilal bin Rabah. Selanjutnya Ka’bah mereka kunci dari dalam. Setelah mereka keluar dari Ka’bah, saya bertanya kepada Bilal, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW?” Bilal menjawab, “Rasulullah SAW menancapkan tongkat di sisi kiri beliau, sebuah lagi di sisi kanannya, dan tiga tongkat lagi di belakangnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa'i, dan Ahmad). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah. 

Ulama yang melarang shalat di dalam Ka’bah berpedoman kepada hadis yang berasal dari mereka yang menyatakan, tatkala Rasulullah SAW memasuki al-Bait (Ka’bah), beliau berdoa di setiap sudut tanpa mengerjakan shalat lalu beliau keluar. Setelah itu beliau mengerjakan shalat dua raka’at menghadap Ka’bah dan berkata “Inilah Kiblat." (HR. Bukhari).

Sementara itu, ulama lain mengkompromikan kedua pendapat di atas. Mereka berpendapat, shalat yang dimaksud dalam hadis lbnu ‘Abbas adalah shalat fardhu dan shalat yang dimaksud di dalam hadis lbnu ‘Umar adalah shalat sunat. Dengan demikian, shalat fardhu tidak boleh dilakukan di dalam Ka’bah, sedangkan shalat sunat boleh dilaksanakan di dalam Ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Malikiyah dan Hanabilah.

Zahra Baintner Terharu dengan Ritual Haji

Zahra Baintner Terharu dengan Ritual Haji

Jumat, 25 Oktober 2013, 17:28 WIB
Komentar : 1
yhyqart.com
Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Zahra Baintner lahir di Jerman. Ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Kedua orang tuanya cenderung religus, ini yang membuatnya rutin mengunjungi gereja. Namun, itu tak lama.

Perceraian kedua orang tuanya begitu memukul Zahra. Ia terpisah dengan ibunya. Itu lantaran, sang ibu tak mampu membiayai hidupnya. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan bersama keluarga asuh.  "Saya membantu orang tua asuh mengurusi masalah rumah tangga," kenang dia seperti dikutip arabnews.com, Jumat (24/10).

Beruntung, ia tidak putus sekolah. Ini membuat Zahra bersemangat mengubah nasibnya. Tapi ia merasa kesepian. Apalagi ketika kedua orang tua asuhnya meninggal. "Waktu itu hari begitu panjang, tidak ada teman. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membaca dan berdoa," kata dia.

Secara umum, kebutuhan pendidikan sudah terpenuhi. Namun, Zahra merasa kekurangan satu hal yakni spiritual. Sesekali ia mendatangi gereja, tapi bukan untuk beribadah melainkan hanya menikmati suasana saja. 
"Di malam hari saya berdoa kepada Allah, Bapa, Yesus, Perawan Maria, orang kudus, tapi saya melupakan satu hal," kata dia.

Semasa sekolah,  Zahra diperkenalkan dasar-dasar ajaran Katolik, Katekismus, seperti trinitas, penembusan dosa, anak Tuhan dan lainnya.  Fondasi itu tak lagi kuat, runtuh secara perlahan. Ia merasa ada yang hilang. "Saya bingung," kata dia.
 
Zahra semakin bingung ketika guru sejarahnya memperlihatkannya film tentang Haji. Film ini menyebutkan bagaimana awal dan penyebaran agama Islam. Lalu membahas sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol. Yang membuat Zahra kagum, bagaimana jutaan calon haji mengenakan ihram bersatu dan berbaur guna memenuhi panggilannya. 

"Ritual ini begitu masuk akal, menenangkan jiwaku yang marah. Saya seolah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan selama ini," kata dia.

Sejak menyaksikan film tersebut, Zahra mulai mencaritahu informasi tentang Islam dan Muslim. Di akhir perjalanan itu, ia satu pada kesimpulan, yakni menjadi Muslim. "Saya merasa tidak beruntung, tidak lahir dalam komunitas Muslim. Karena, setiap anak yang lahir pada dasarnya telah berkomitmen menjadi Muslim, tapi karena orang tuanya, ia menjadi Yahudi atau Kristen," kenang dia.

Zahra mengungkap, ketika lahir, anak itu dibisikkan suara azan. Mereka dikenalkan kepada pencipta-Nya. Dia itu satu tidak memiliki sekutu apalagi anak. "Hadiah yang tak ternilai adalah mengenalkan anak dengan ajaran Islam di hari pertama kehidupan anak.  Bagi yang tidak, Allah SWT akan memberikan hidayah kepada mereka yang mencari kebenaran," ucapnya. 

Tuesday, October 22, 2013

Ikhlas Berkurban, Ikhlas Membayar Pajak


Senin, 21/10/2013 01:00 WIB 
Ikhlas Berkurban, Ikhlas Membayar Pajak 

Advertorial - detikNews



Jakarta - Hari Raya Idhul Adha baru saja berlalu. Idhul Adha biasa juga disebut sebagai Hari Raya Kurban, karena di saat itu umat Islam menjalankan salah satu perintahNya untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Kurban sendiri berawal dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk membuktikan ketakwaannya dengan menyembelih Nabi Ismail AS, putra yang telah lama ditunggu-tunggu kelahirannya. Ibrahim berhasil membuktikan ketakwaannya dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor domba. Luluslah Ibrahim AS dan Ismail AS dari ujianNya.

Berawal dari peristiwa itulah, umat Islam disunahkan untuk melakukan kurban. Mungkin bagi sebagian kalangan ibadah kurban dianggap memberatkan, karena mereka harus menyiapkan dana yang cukup besar untuk dapat membeli hewan kurban. Namun dengan keikhlasan, bahkan banyak orang tergolong tidak mampu, berlomba-lomba menabung sehingga pada saat Idhul Adha mereka dapat ikut melaksanakan ibadah kurban.

Banyak dimensi dari kurban yang dapat kita petik hikmahnya selain dimensi keikhlasan, dimensi sosial salah satunya. Dari sisi sosial, ibadah kurban bukan hanya sekedar proses menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada yang berhak saja, lebih dari itu, ibadah kurban dapat mempererat silaturahmi antara golongan mampu, yang berkurban, dengan mereka yang tidak mampu, mereka yang menerima kurban.

Sebagaimana kurban, yang merupakan perintah dan ibadah kepada Allah, membayar pajak pun sesungguhnya juga merupakan salah satu bentuk 

ibadah kepada Allah. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada masyarakat terutama mereka yang miskin. Bahkan dapat dikatakan dalam banyak hal pajak merupakan bentuk aktualisasi strategis dari perintah Allah untuk melakukan sedekah, zakat, maupun kurban. Membayar pajak pun membutuhkan keikhlasan dalam melakukannya, sehingga tak lagi dirasa berat.

Setelah uang pajak terkumpul, negara akan memanfaatkan uang pajak untuk membiayai pembangunan, Dengan semakin banyak rakyat yang membayar pajak dengan benar, semakin banyak uang yang dimanfaatkan untuk pembangunan.

Selain sebagai sumber pendapatan negara, pajak juga berfungsi untuk mewujudkan keadilan sosial, yaitu dengan cara melakukan

distribusi kesejahteraan. Hal ini dilaksanakan dengan menerapkan tarif pajak secara progresif, yaitu mengenakan pajak dengan tarif lebih tinggi bagi masyarakat yang berpenghasilan besar dan membebaskan pajak bagi yang kurang mampu.

Setelah sadar bahwa pajak juga merupakan salah satu ibadah pada Allah, maka kita pun akan dengan ikhlas

membayar pajak. Terlebih dengan kesadaran bahwa membayar pajak pun merupakan salah satu pengejawantahan dari sabda Nabi Muhammad SAW, “sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia yang lain”, niscaya membayar pajak tidak lagi memberatkan. Mari sempurnakan ibadah kurban kita dengan membayar pajak secara benar. Selamat Hari Raya Idhul Adha.

Sunday, October 20, 2013

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

 republika.co.id

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

Jamaah haji menggunakan layanan kereta Mashair untuk transportasi di Mina, Arafah dan Muzdalifah. (Sabq/Abdul Malik Surur)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Sebanyak 368 orang jamaah haji Indonesia mengajukan permohonan tanazzul (pulang lebih awal dari jadwal), namun petugas memprioritaskan bagi jamaah haji yang sakit. "Sakit menjadi prioritas utama pemenuhan permohonantanazzul bagi jamaah haji Indonesia," kata Kepala Seksi Kedatangan dan Pemulangan Daerah Kerja Makkah Miftahul Maulana di Makkah, Ahad (20/10).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang mengajukan tanazzul sebanyak 368 orang itu tercatat hingga Sabtu (19/10) malam. "Jumlah ini biasanya akan terus bertambah," kata Miftahul.

Permohonan tanazzul disampaikan kepada kepada Kepala Daerah Kerja Makkah, kemudian petugas akan membuat skala prioritas dengan menyesuaikan ketersediaan kursi (seat) penerbangan. Menurut dia, jamaah yang dalam keadaan sakit bisa mengajukan permohonan untuk dipulangkan lebih awal dari jadwal semula agar bisa mendapat pengobatan di Tanah Air. "Namun, pengajuan itu harus mendapat rekomendasi dan izin dokter untuk melakukan penerbangan," katanya.

Selain sakit, keperluan dinas dan pendidikan juga menjadi alasan jamaah mengajukan permohonan tanazzul. Alasan lainnya adalah penggabungan kloter, misalnya bagi jamaah yang keberangkatannya dari Tanah Air tertunda karena sakit, pada saat pulang dapat bergabung kembali dengan kloter semula.

Sementara itu, Sistem Komputerisasi dan Informasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat sembilan kloter pertama yang dipulangkan ke Tanah Air dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Ahad (20/10), adalah JKG (Jakarta Pondok Gede) berangkat pukul 7.20 waktu Arab Saudi (WAS). Selain itu, PDG (Padang) 09.30 WAS, SOC (Solo) 12.20 WAS, BPN (Balikpapan) 14.20 WAS, UPG (Makassar) 15.25 WAS, MES (Medan) 16.15 WAS, BTH (Batam) 22.05 WAS, JKS (Jakarta-Bekasi) 22.35 WAS, dan SUB (Surabaya) 23.05 WAS.

Adapun jamaah yang wafat di Arab Saudi hingga Ahad (20/10) pukul 08.52 WAS (12.52 WIB) mencapai 114 orang, sedang yang masih menjalani rawat inap 1.176 orang.

Kursi Roda Jadi Alat Bantu Paling Dibutuhkan Jamaah Haji Usia Lanjut

 news.detik.com

Kursi Roda Jadi Alat Bantu Paling Dibutuhkan Jamaah Haji Usia Lanjut

Makkah - Banyak jamaah haji Indonesia yang sudah berusia tua. Tak sedikit di antara mereka berusia 60 tahun ke atas. Sebagian besar memiliki kondisi fisik yang tak cukup kuat. Alhasil, kursi roda menjadi alat bantu yang sangat dibutuhkan.

Misalnya saja jamaah haji kloter 1 Padang. Menurut seorang pimpinan rombongan, dari 360 jamaah yang dibawanya, tak sedikit yang menggunakan kursi roda saat melakukan ibadah tawaf dan sai.

Kursi roda itu disewa dengan nilai yang cukup besar. Tak hanya kursi roda, seorang pendorong juga mesti dibayar tenaganya. Biaya yang dikeluarkan bervariasi mulai dari 200-500 riyal. Di kawasan Makkah banyak jasa pendorong kursi roda.

Kursi roda ini juga amat dibutuhkan saat jamaah haji berada di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Pada Minggu (20/10/2013), banyak jamaah berusia lanjut yang meminta bantuan kursi roda.

Petugas hari Indonesia pun sibuk bergegas mencari kursi roda yang tersedia gratis. "Banyak yang usia lanjut, Mas," kata Susi seorang petugas kesehatan.

Susi dan rekan-rekannya sibuk meminta bantuan kursi roda. Petugas dan juga wartawan juga membantu mendorong kursi roda itu.

"Lucunya, setelah saya antar pakai kursi roda, saya mau dikasih uang sama jamaah yang sudah tua," cerita Gatot, seorang wartawan.

Para jamaah yang sudah berusia lanjut terlihat kelelahan. "Saya capek, cuma tidur sebentar. Makasih ya Nak, sudah diantar," ucap Rosna (72), jamaah asal Padang.

'Ibadah Haji Memang Capek, Tapi Saya Senang'

 detik.feedsportal.com

'Ibadah Haji Memang Capek, Tapi Saya Senang'

Jeddah - Ibadah haji adalah ibadah fisik. Banyak aktivitas yang menuntut ketangguhan fisik jamaah haji. Mulai dari tawaf mengeliling ka'bah, berjalan antara safa dan marwah atau disebut sai, hingga melontar jumrah.

"Tawaf wada kemarin sampai dua jam," kata Rahmad, jamaah kloter 1 asal Jakarta, saat hendak pulang ke tanah air di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Minggu (20/10/2013).

Rahmat mengaku, saat tawaf perpisahan itu tempat tawaf penuh sesak jamaah. Apalagi di dalam rombongan banyak juga yang berusia lanjut.

"Tapi kita semua senang, Alhamdulillah bisa pulang ke Indonesia," kata Rahmat yang diamini temannya, Mukti.

Hal senada juga diamini Susi, jamaah haji asal Padang, Sumbar. Para jamaah banyak yang kurang tidur. Apalagi, tidak ada lagi tempat menginap sementara di Jeddah. Jamaah langsung berangkat dari Makkah ke bandara.

Proses keberangkatan itu membutuhkan waktu yang lama. Di bandara saja, mereka harus sudah sampai pukul 04.00 WIB. "4 Hari ini kurang tidur," terang Susi.

Jamaah yang terbang pada hari ini yakni jamaah kloter satu Jakarta berjumlah 455 orang yang terbang dari Jeddah pukul 07.20 dan menyusul jamaah asal Padang berjumlah 360 yang terbang pukul 09.30 WIB.

Wajah-wajah lelah dan kurang tidur terlihat dari para jamaah yang mengenakan batik hijau ini. Namun semuanya sirna begitu proses pemeriksaan barang dan boarding tiket selesai.

Misalnya saja Rosna, nenek berusia 72 tahun asal Batu Sangkar ini. Dia berharap bisa segera bertemu keluarganya. Kelelahan semua akan terbayar.

"Senang bisa lihat Ka'bah," jelas Rosna dengan senyum. "Keluarga sudah tahu pulang hari ini, nanti dijemput," tambah dia lagi.


Polresta Tangerang akan menjerat pemilik yayasan penyalur pembantu rumah tangga yg digrebek di bintaro tangerang selatan dengan undang2 perlindungan anak.. Saksikan Tayangan lengkapnya di "Reportase Malam" pukul 3.05 WIB Hanya di Trans TV

Saturday, October 19, 2013

Jamaah Haji Diimbau Tak Bawa Barang yang Aneh-aneh

 detik.feedsportal.com

Jamaah Haji Diimbau Tak Bawa Barang yang Aneh-aneh


Jakarta - Kloter pertama jamaah haji Indonesia akan segera pulang ke tanah air. Mereka akan terbang pada Minggu (20/10) pagi. Agar di bandara lancar, para jamaah diimbau tak membawa barang yang aneh-aneh.

"Diharapkan jamaah tidak membawa rice cooker, karpet, alat potong kuku, atau pisau," kata Vice President Hajj, VVIP and Charter Garuda, Hady Syahrean di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (19/10/2013).

Barang bawaan jamaah akan diperiksa di bandara oleh petugas Garuda. Hal ini dilakukan untuk memudahkan di bagian pemeriksaan Saudi. Jadi, sebelum diperiksa petugas Saudi lebih dahulu diperiksa petugas Indonesia. Untuk koper berat yang diizinkan 32 Kg dan tas tenteng 7 Kg.

"Ini untuk keamanan dan kelancaran," terang Hady yang sudah memegang urusan penerbangan jamaah haji sejak 2005.

Barang bawaan jamaah haji yang diamankan petugas pemeriksa akan diberikan kepada pihak Daker Mekkah Kemenag.

"Kita tidak akan kirimkan ke Indonesia, kita serahkan ke Kadaker," jelasnya.

Penerbangan kloter pertama yakni jamaah haji Jakarta yang akan mendarat di Halim. Kemudian menyusul dengan jarak 2-3 jam, jamaah haji tujuan Padang, Sumbar; Balikpapan, Kaltim; Medan, Sumut; Makassar, Sulsel; Solo, Jateng.

"Dalam sehari ada 7 penerbangan. Kita menggunakan pesawat Airbus, 744, dan 777, total 12 pesawat," tuturnya.

(ndr/fjr)


Melewati Miqat tanpa Berihram

 republika.co.id

Melewati Miqat tanpa Berihram

Melewati Miqat tanpa Berihram

Jamaah turun di tempat Miqat, Bir Ali untuk niat Ihram dan Haji

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum. wr.wb

Ustaz, bisa dijelaskan tentang miqat saat berhaji?

Riki di Tangerang

Wassalamualaikum wr.wb.

Sering kali, dalam pelaksanaan ibadah haji kita mendengar istilahmiqat (batas). Sebenarnya, miqat ini ada dua jenis, makany (tempat) dan zamany (waktu).

Miqat zamany tidak terlalu populer di kalangan jamaah haji, sebabmiqat zamany ini adalah musim haji yang terdiri atas tiga bulan, mulai dari Syawal hingga Dzulhijah. Adapun yang akrab ditelinga jamaah tentang miqat adalah miqat makany (batas tempat untuk berihram).

Siapa orang yang melintasi miqat yang telah ditentukan maka wajib baginya untuk berihram (memakai pakaian dan berniat ihram).

Melintasi miqat dengan berihram adalah sebuah kewajiban. Siapa yang melintasinya tanpa berihram maka wajib baginya untuk membayar dam (denda satu ekor kambing).

Hal ini berlaku tanpa terkecuali bagi setiap jamaah haji dan umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Begitu mereka melintasimiqat-miqat yang telah ditentukan maka mereka haruslah berihram.Lalu, manakah miqat yang biasa digunakan jamaah haji Indonesia?

Jamaah haji Indonesia yang terlebih dahulu ke Madinah sebelum haji. Maka, miqat mereka adalah Dzul Hulaifah atau Bir Ali.

Sementara, jamaah haji yang datang langsung ke Makkah, miqat mereka adalah Yalamlam dan mereka dapat mengetahui miqat ini lewat informasi yang disampaikan oleh petugas dan kru pesawat yang ditumpangi.

Mengenai batas miqat-miqat ini, Ibnu Abbas Ra meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW yang berbunyi, “Rasulullah SAW telah menetapkan tempat miqat untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah. Al Juhfah untuk penduduk Syam. Qarnul Manazil untuk penduduk Najd. Yalamlam untuk penduduk Yaman. Usai itu, Rasulullah SAW bersabda, ‘Miqat-miqat itu diwajibkan bagi para penduduk masing-masing daerah dan bagi orang yang datang melewati daerah itu dan berniat melakukan ibadah haji maupun umrah. Adapun mereka yang tinggal setelah batas miqat di atas maka miqatnya adalah rumahnya sendiri. Bahkan, penduduk Mekkah dipersilakan mengambil miqat dari rumah mereka sendiri.’” Hadis Muttafaq Alaihi.

Lalu, bagaimana hukumnya bila ada seseorang yang melintasi miqattapi ia tidak berihram? Dalam kondisi ini, ada dua hal yang bisa ia lakukan. Pertama, ia kembali lagi ke miqat, bila memungkinkan untuknya, dan berihram dari sana.

Kedua, bila tak mungkin kembali ke miqat karena khawatir tertinggal rombongan, maka ia diperkenankan berihram dari tempat ia berada, tapi ia diwajibkan membayar dam sebesar satu ekor kambing.

Permasalahan seputar miqat ini mungkin juga dialami jamaah haji yang menempuh jalur laut dan udara. Maka, bagi mereka kewajibanberihram harus tetap dilakukan saat melewati miqat, sama halnya seperti mereka yang menempuh jalur darat.

Tidak ada halangan bagi mereka yang menempuh jalur udara dan laut untuk berihram di atas kendaraan yang mereka tumpangi.Wallahu A'lam.

Ustaz Bobby Herwibowo


Bolehkah Menjual Daging Kurban?

 republika.co.id

Bolehkah Menjual Daging Kurban?

Musiron/Republika

Daging kurban

Daging kurban

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena menjual kembali daging qurban terus terjadi tiap tahunnya. Bahkan tidak jarang para penerima daging qurban secara terang-terangan melakukan hal tersebut di depan masjid setelah antre daging qurban.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Ya'qub membenarkan fenomena tersebut. Menurutnya, tak ada salahnya jika seorang yang mendapat daging qurban menjual daging yang mereka peroleh.

"Daging yang mereka peroleh itu adalah hak dia. Terserah mau dia masak, dia sedekahkan, atau dia jual. Yang tidak boleh (menjual) adalah panitia qurban," jelas Ali kepada Republika Rabu (16/10).

Ali berpedoman kepada sebuah hadis yang mengisahkan seorang hamba sahaya Aisyah RA, Barirah. Tatkala Barirah mendapatkan daging dari zakat seseorang, Barirah memasaknya dan menyuguhkannya kepada Rasulullah untuk dimakan. Rasulullah SAW pun tak menolak untuk menyantap daging yang disajikan Barirah.

Sebagaimana diketahui, Rasulullah dilarang menerima harta dari zakat. Rasulullah hanya diperkenankan menerima sedekah dari umatnya.

"Jadi yang diterima Barirah adalah zakat. Tapi yang diberikan Barirah kepada Rasulullah adalah sedekah. Berdalil dari hadis ini, maka penerima daging Qurban punya hak untuk menjual. Kalau ada yang mengatakan tidak boleh, perlu diluruskan," paparnya.

Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Hazliansyah

Pulanglah pada istrimu, bila engkau tergoda seorang wanita (HR Muslim)


Thursday, October 17, 2013

Arafah dan Daya Hipnotisnya

 republika.co.id

Arafah dan Daya Hipnotisnya

Arafah dan Daya Hipnotisnya

Ribuan jamaah haji berdoa di bukit Jabal Rahmah, saat melaksanakan ibadah wukuf di Arafah, Senin (14/10). (AP/Amr Nabil)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yeyen Rostiyani

Arafah memang hanyalah sebidang lahan seluas 30 juta meter persegi. Namun, lahan ini seakan memiliki daya magis bagi umat Islam, terutama yang berhaji atau pernah berhaji.

Pada Senin (14/10), sekitar 168 ribu umat Islam Indonesia berkumpul bersama jutaan Muslim lain dari seluruh dunia. Dalam terminologi Islam, berkumpul di Arafah adalah sebuah simulasi berkumpul di Padang Mashar, kelak.

Kaum pria mengenakan pakaian serupa yang terdiri atas dua helai kain ihram warna putih tanpa berjahit. Pakaian bagi kaum wanita, batasan modelnya lebih longgar. Mereka boleh mengenakan pakaian apa saja asal tidak ketat dan menutup aurat.

Mayoritas warga Indonesia memilih warna putih sebagai pakaian ihram mereka. Meski, Muslimah negara lain tampak memilih warna yang lebih beragam. Jamaah Indonesia  memulai acara wukuf pukul 11.00 waktu Arab Saudi (WAS).

Sesekali terdengar isak tangis saat khotbah disampaikan dari tenda besar yang disulap menjadi masjid. Saya pun melihat ke sekeliling saya. Teman-teman seperti terhipnotis.

Mereka terus menengadahkan tangan, berdoa. Meski tak dimungkiri, ada juga orang yang sesekali masih lalu-lalang dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Di pojok lain, bisik-bisik kadang terdengar. Sementara itu, di sebuah pojok tenda, seorang teman menempelkan telepon genggam di telinganya.

Ia berbicara sambil menangis sesenggukan seusai prosesi wukuf. Entah apa yang membuatnya demikian sedih. Rupanya, prosesi wukuf itu membuat ia teringat pada keluarganya di Tanah Air.

Prosesi wukuf di Arafah ternyata juga mengirimkan getaran tersendiri bagi teman saya yang sudah menunaikan ibadah haji sebelumnya. Ia mengaku terpekur melihat siaran langsung wukuf di televisi.

“Aduh, sedihnya menonton siaran wukuf langsung dari Arafah. Tolong doakan saya ya,” katanya kepada saya melalui pesan What’s App.

Pesan serupa secara tertulis datang dari seorang kawan lain di Indonesia. Seperti biasa, orang memang banyak yang menitipkan doa kepada saudara, orang tua, sanak, kerabat, hingga teman yang berhaji.

Doa-doa yang dipanjatkan pada tempat dan waktu tertentu saat haji diyakini lebih makbul dibandingkan saat berdoa di Tanah Air.

Sekarang, saat saya sendiri yang mengalami berhaji, ternyata memahami betapa berat amanah untuk memanjatkan doa-doa titipan itu.

Saya juga jadi memahami, orang-orang yang menititipkan doa pada orang yang berhaji ternyata harus juga pandai-pandai menjaga agar si pelantun doa bisa tulus menyampaikannya kepada Sang Khalik.

Seorang teman lain yang pernah berhaji mengingatkan saya pentingnya makna Arafah. “Di situ, jarakmu dengan Allah kurang dari satu inci saja. Berpuas-puaslah dengan Arafah,” kata sang teman. Kata-katanya membuat saya kian mengharu biru.

Arafah saat wukuf adalah Arafah yang hening, khidmat, dan banjir akan kesadaran diri. Arafah adalah hari pelantikan bagi mereka yang menjalankan ibadah haji.

Tanpa Arafah maka tak ada haji. Tak heran jika jamaah memaknainya sedemikian rupa. Saat itu, sebutan jamaah calon hajiberganti menjadi jamaah haji. Meski, sejumlah tahapan lain masih harus dilakukan untuk menyempurnakan rukun haji.

Saya menatap langit Arafah yang biru. Secara kasat mata, tak ada yang berbeda dengan langit selama di Saudi seperti selama ini. Namun, entah mengapa menatap langit Arafah saat itu terasa lebih menggetarkan.

Kata-kata teman mengenai betapa dekatnya kita dengan Sang Khalik membuat hati tergetar. Agaknya, memandang langit Arafah—atau apa pun itu—memang bergantung pada seberapa dalam kita memaknainya. 

Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah SAW

 republika.co.id

Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah SAW

Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID,

Rasulullah SAW meletakkan batu pertama Masjid Quba tepat di kiblatnya.

Semua masjid yang berada di Makkah, Madinah, dan Palestina selalu istimewa bagi umat Islam. Masjid-masjid ini punya nilai yang lekat dengan sejarah peradaban Islam. Begitupun dengan masjid Quba.

Menilik dari sejarahnya, Masjid Quba punya nilai historis yang sangat tinggi.  Masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW.

Masjid Quba dibangun pada awal peradaban Islam. Tepatnya, 8 Rabiul Awal pada 1 Hijriyah. Lokasinya berada di sebelah tenggara Kota Madinah, lima kilometer di luarnya.

Dulu, masjid ini dibangun dengan bahan yang sangat sederhana. Seiring berjalannya waktu, renovasi banyak dilakukan Kerajaan Arab Saudi.

Masjid ini juga mengalami perluasan. Dalam buku berjudul Sejarah Madinah Munawwarah yang ditulis Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, dijelaskan masjid ini direnovasi besar-besaran pada 1986.

Kala itu, Pemerintah Arab Saudi bahkan mengeluarkan dana hingga 90 juta riyal Saudi untuk memperluas masjid ini yang nantinya bisa menampung 20 ribu jamaah yang mengunjunginya.

Dalam sejarah yang dituliskan, tokoh Islam yang memegang peranan penting dalam pembangunan masjid ini adalah Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu lanhu.

Ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah, pria ini mengusulkan untuk membangun tempat berteduh bagi sang Nabi di kampung Quba yang tadinya hanya terdiri atas hamparan kebun kurma.

Kemudian, dikumpulkanlah batu-batu dan disusun menjadi masjid yang sangat sederhana. Meskipun tak seberapa besar, paling tidak bangunan ini bisa menjadi tempat berteduh bagi rombongan Rasulullah. Mereka pun bisa beristirahat kala siang hari dan mendirikan shalat dengan tenang.

Rasulullah SAW meletakkan batu pertama tepat di kiblatnya dan ikut menyusun batu-batu selanjutnya hingga bisa menjadi pondasi dan dinding masjid.

Rasullullah SAW dibantu para sahabat dan kaum Muslim yang lain. Ammar menjadi pengikut Rasulullah yang paling rajin dalam membangun masjid ini.

Tanpa kenal lelah, ia membawa batu-batu yang ukurannya sangat besar, hingga orang lain tak sanggup mengangkatnya.

Ammar mengikatkan batu itu ke perutnya sendiri dan membawanya untuk dijadikan bahan bangunan penyusun masjid ini. Ammar memang selalu dikisahkan sebagai prajurit yang sangat perkasa bagi pasukan Islam. Dia mati syahid pada usia 92 tahun.

Pada awal pembangunannya yang dibangun dengan tangan Rasulullah sendiri masjid ini berdiri di atas kebun kurma.

Luas kebun kurmanya kala itu 5.000 meter persegi dan masjidnya baru sekitar 1.200 meter persegi. Rasulullah sendiri pula yang mengonsep desain dan model masjidnya.

Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk masjid-masjid selanjutnya. Bangunan yang sangat sederhana kala itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid.

Masjid ini telah memiliki sebuah ruang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya. Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang.

Dulu, ruangan ini bertiangkan pohon kurma, beratap datar dari pelepah, dan daun korma yang dicampur dengan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn terdapat sebuah sumur tempat wudhu.

Di sini, jamaah bisa mengambil air untuk membersihkan diri. Dalam masjid ini, kebersihan selalu terjaga, cahaya matahari dan udara pun dapat masuk dengan leluasa.

  Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.