Friday, October 25, 2013

Resep Sate Kambing H.Sadjim

 female.kompas.com

Resep Sate Kambing H.Sadjim

Resep Sate Kambing H.Sadjim

Rabu, 9 Oktober 2013 | 09:22 WIB

BANGO Sate Kambing

Foto:

KOMPAS.com - Bahan :
500 gr daging kambing, potong dadu (jangan hilangkan gajih-nya)

Bumbu celup:
50 gram buah nanas setengah matang, parut halus
100 gr kacang tanah, goreng dan haluskan
2 sdm kecap manis

Bumbu kecap:
10 cabai rawit merah
10 bawang merah, iris halus
2 buah tomat merah, potong kasar
5 sdm kecap manis

Cara membuat:
1. Bumbu celup: Campur semua bahan jadi satu dan aduk rata. Sisihkan.
2. Bumbu kecap: Ulek cabe rawit merah dan letakkan di mangkuk. Campur dengan bawang merah dan tomat ke dalamnya. Tambahkan dengan kecap manis. Aduk rata.
3. Sate kambing: Rendam daging kambing dalam bumbu celup selama 5 menit. Tusuk daging kambing, selingi dengan gajih. Kemudian tusuk dengan tusuk sate yang sudah direndam air. 
4. Bakar sate sampai matang. Sajikan dengan sambal kecap dan nasi putih hangat.

Resep : Sate Kambing H.Sadjim untuk Kecap Manis Bango

Penulis :

Christina Andhika Setyanti

Editor :

Lusia Kus Anna

Shalat di dalam Ka’bah, Apa Hukumnya?

Shalat di dalam Ka’bah, Apa Hukumnya?

Jumat, 25 Oktober 2013, 14:29 WIB
Komentar : 0
 Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10).  (Hassan Ammar/AP)
Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya shalat di dalam Ka’bah, termasuk juga dengan di atas Ka’bah. Masalahnya adalah apakah shalat di dalam atau di atas Ka’bah itu bisa dianggap menghadap kiblat? Disamping itu terdapat pula hadis-hadis yang berbeda dalam masalah ini.

Sebagian ulama membolehkan shalat di dalam Ka’bah, sebagian ulama melarangnya. Sedangkan sebagian ulama lainnya membolehkan shalat sunat dan melarang shalat fardhu di dalam Ka’bah. 

Ulama yang membolehkan shalat di dalam Ka’bah berpedoman kepada hadis dari lbnu ‘Umar yang mengatakan, “Saya melihat Rasulullah SAW memasuki Ka’bah bersama Usamah bin Zaid, Utsman bin Thalhah, dan Bilal bin Rabah. Selanjutnya Ka’bah mereka kunci dari dalam. Setelah mereka keluar dari Ka’bah, saya bertanya kepada Bilal, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW?” Bilal menjawab, “Rasulullah SAW menancapkan tongkat di sisi kiri beliau, sebuah lagi di sisi kanannya, dan tiga tongkat lagi di belakangnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa'i, dan Ahmad). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah. 

Ulama yang melarang shalat di dalam Ka’bah berpedoman kepada hadis yang berasal dari mereka yang menyatakan, tatkala Rasulullah SAW memasuki al-Bait (Ka’bah), beliau berdoa di setiap sudut tanpa mengerjakan shalat lalu beliau keluar. Setelah itu beliau mengerjakan shalat dua raka’at menghadap Ka’bah dan berkata “Inilah Kiblat." (HR. Bukhari).

Sementara itu, ulama lain mengkompromikan kedua pendapat di atas. Mereka berpendapat, shalat yang dimaksud dalam hadis lbnu ‘Abbas adalah shalat fardhu dan shalat yang dimaksud di dalam hadis lbnu ‘Umar adalah shalat sunat. Dengan demikian, shalat fardhu tidak boleh dilakukan di dalam Ka’bah, sedangkan shalat sunat boleh dilaksanakan di dalam Ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Malikiyah dan Hanabilah.

Zahra Baintner Terharu dengan Ritual Haji

Zahra Baintner Terharu dengan Ritual Haji

Jumat, 25 Oktober 2013, 17:28 WIB
Komentar : 1
yhyqart.com
Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Zahra Baintner lahir di Jerman. Ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Kedua orang tuanya cenderung religus, ini yang membuatnya rutin mengunjungi gereja. Namun, itu tak lama.

Perceraian kedua orang tuanya begitu memukul Zahra. Ia terpisah dengan ibunya. Itu lantaran, sang ibu tak mampu membiayai hidupnya. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan bersama keluarga asuh.  "Saya membantu orang tua asuh mengurusi masalah rumah tangga," kenang dia seperti dikutip arabnews.com, Jumat (24/10).

Beruntung, ia tidak putus sekolah. Ini membuat Zahra bersemangat mengubah nasibnya. Tapi ia merasa kesepian. Apalagi ketika kedua orang tua asuhnya meninggal. "Waktu itu hari begitu panjang, tidak ada teman. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membaca dan berdoa," kata dia.

Secara umum, kebutuhan pendidikan sudah terpenuhi. Namun, Zahra merasa kekurangan satu hal yakni spiritual. Sesekali ia mendatangi gereja, tapi bukan untuk beribadah melainkan hanya menikmati suasana saja. 
"Di malam hari saya berdoa kepada Allah, Bapa, Yesus, Perawan Maria, orang kudus, tapi saya melupakan satu hal," kata dia.

Semasa sekolah,  Zahra diperkenalkan dasar-dasar ajaran Katolik, Katekismus, seperti trinitas, penembusan dosa, anak Tuhan dan lainnya.  Fondasi itu tak lagi kuat, runtuh secara perlahan. Ia merasa ada yang hilang. "Saya bingung," kata dia.
 
Zahra semakin bingung ketika guru sejarahnya memperlihatkannya film tentang Haji. Film ini menyebutkan bagaimana awal dan penyebaran agama Islam. Lalu membahas sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol. Yang membuat Zahra kagum, bagaimana jutaan calon haji mengenakan ihram bersatu dan berbaur guna memenuhi panggilannya. 

"Ritual ini begitu masuk akal, menenangkan jiwaku yang marah. Saya seolah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan selama ini," kata dia.

Sejak menyaksikan film tersebut, Zahra mulai mencaritahu informasi tentang Islam dan Muslim. Di akhir perjalanan itu, ia satu pada kesimpulan, yakni menjadi Muslim. "Saya merasa tidak beruntung, tidak lahir dalam komunitas Muslim. Karena, setiap anak yang lahir pada dasarnya telah berkomitmen menjadi Muslim, tapi karena orang tuanya, ia menjadi Yahudi atau Kristen," kenang dia.

Zahra mengungkap, ketika lahir, anak itu dibisikkan suara azan. Mereka dikenalkan kepada pencipta-Nya. Dia itu satu tidak memiliki sekutu apalagi anak. "Hadiah yang tak ternilai adalah mengenalkan anak dengan ajaran Islam di hari pertama kehidupan anak.  Bagi yang tidak, Allah SWT akan memberikan hidayah kepada mereka yang mencari kebenaran," ucapnya. 

Tuesday, October 22, 2013

Ikhlas Berkurban, Ikhlas Membayar Pajak


Senin, 21/10/2013 01:00 WIB 
Ikhlas Berkurban, Ikhlas Membayar Pajak 

Advertorial - detikNews



Jakarta - Hari Raya Idhul Adha baru saja berlalu. Idhul Adha biasa juga disebut sebagai Hari Raya Kurban, karena di saat itu umat Islam menjalankan salah satu perintahNya untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Kurban sendiri berawal dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk membuktikan ketakwaannya dengan menyembelih Nabi Ismail AS, putra yang telah lama ditunggu-tunggu kelahirannya. Ibrahim berhasil membuktikan ketakwaannya dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor domba. Luluslah Ibrahim AS dan Ismail AS dari ujianNya.

Berawal dari peristiwa itulah, umat Islam disunahkan untuk melakukan kurban. Mungkin bagi sebagian kalangan ibadah kurban dianggap memberatkan, karena mereka harus menyiapkan dana yang cukup besar untuk dapat membeli hewan kurban. Namun dengan keikhlasan, bahkan banyak orang tergolong tidak mampu, berlomba-lomba menabung sehingga pada saat Idhul Adha mereka dapat ikut melaksanakan ibadah kurban.

Banyak dimensi dari kurban yang dapat kita petik hikmahnya selain dimensi keikhlasan, dimensi sosial salah satunya. Dari sisi sosial, ibadah kurban bukan hanya sekedar proses menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada yang berhak saja, lebih dari itu, ibadah kurban dapat mempererat silaturahmi antara golongan mampu, yang berkurban, dengan mereka yang tidak mampu, mereka yang menerima kurban.

Sebagaimana kurban, yang merupakan perintah dan ibadah kepada Allah, membayar pajak pun sesungguhnya juga merupakan salah satu bentuk 

ibadah kepada Allah. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada masyarakat terutama mereka yang miskin. Bahkan dapat dikatakan dalam banyak hal pajak merupakan bentuk aktualisasi strategis dari perintah Allah untuk melakukan sedekah, zakat, maupun kurban. Membayar pajak pun membutuhkan keikhlasan dalam melakukannya, sehingga tak lagi dirasa berat.

Setelah uang pajak terkumpul, negara akan memanfaatkan uang pajak untuk membiayai pembangunan, Dengan semakin banyak rakyat yang membayar pajak dengan benar, semakin banyak uang yang dimanfaatkan untuk pembangunan.

Selain sebagai sumber pendapatan negara, pajak juga berfungsi untuk mewujudkan keadilan sosial, yaitu dengan cara melakukan

distribusi kesejahteraan. Hal ini dilaksanakan dengan menerapkan tarif pajak secara progresif, yaitu mengenakan pajak dengan tarif lebih tinggi bagi masyarakat yang berpenghasilan besar dan membebaskan pajak bagi yang kurang mampu.

Setelah sadar bahwa pajak juga merupakan salah satu ibadah pada Allah, maka kita pun akan dengan ikhlas

membayar pajak. Terlebih dengan kesadaran bahwa membayar pajak pun merupakan salah satu pengejawantahan dari sabda Nabi Muhammad SAW, “sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia yang lain”, niscaya membayar pajak tidak lagi memberatkan. Mari sempurnakan ibadah kurban kita dengan membayar pajak secara benar. Selamat Hari Raya Idhul Adha.

Sunday, October 20, 2013

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

 republika.co.id

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

368 Orang Jamaah Haji Indonesia Ajukan 'Tanazzul'

Jamaah haji menggunakan layanan kereta Mashair untuk transportasi di Mina, Arafah dan Muzdalifah. (Sabq/Abdul Malik Surur)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Sebanyak 368 orang jamaah haji Indonesia mengajukan permohonan tanazzul (pulang lebih awal dari jadwal), namun petugas memprioritaskan bagi jamaah haji yang sakit. "Sakit menjadi prioritas utama pemenuhan permohonantanazzul bagi jamaah haji Indonesia," kata Kepala Seksi Kedatangan dan Pemulangan Daerah Kerja Makkah Miftahul Maulana di Makkah, Ahad (20/10).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang mengajukan tanazzul sebanyak 368 orang itu tercatat hingga Sabtu (19/10) malam. "Jumlah ini biasanya akan terus bertambah," kata Miftahul.

Permohonan tanazzul disampaikan kepada kepada Kepala Daerah Kerja Makkah, kemudian petugas akan membuat skala prioritas dengan menyesuaikan ketersediaan kursi (seat) penerbangan. Menurut dia, jamaah yang dalam keadaan sakit bisa mengajukan permohonan untuk dipulangkan lebih awal dari jadwal semula agar bisa mendapat pengobatan di Tanah Air. "Namun, pengajuan itu harus mendapat rekomendasi dan izin dokter untuk melakukan penerbangan," katanya.

Selain sakit, keperluan dinas dan pendidikan juga menjadi alasan jamaah mengajukan permohonan tanazzul. Alasan lainnya adalah penggabungan kloter, misalnya bagi jamaah yang keberangkatannya dari Tanah Air tertunda karena sakit, pada saat pulang dapat bergabung kembali dengan kloter semula.

Sementara itu, Sistem Komputerisasi dan Informasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat sembilan kloter pertama yang dipulangkan ke Tanah Air dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Ahad (20/10), adalah JKG (Jakarta Pondok Gede) berangkat pukul 7.20 waktu Arab Saudi (WAS). Selain itu, PDG (Padang) 09.30 WAS, SOC (Solo) 12.20 WAS, BPN (Balikpapan) 14.20 WAS, UPG (Makassar) 15.25 WAS, MES (Medan) 16.15 WAS, BTH (Batam) 22.05 WAS, JKS (Jakarta-Bekasi) 22.35 WAS, dan SUB (Surabaya) 23.05 WAS.

Adapun jamaah yang wafat di Arab Saudi hingga Ahad (20/10) pukul 08.52 WAS (12.52 WIB) mencapai 114 orang, sedang yang masih menjalani rawat inap 1.176 orang.

Kursi Roda Jadi Alat Bantu Paling Dibutuhkan Jamaah Haji Usia Lanjut

 news.detik.com

Kursi Roda Jadi Alat Bantu Paling Dibutuhkan Jamaah Haji Usia Lanjut

Makkah - Banyak jamaah haji Indonesia yang sudah berusia tua. Tak sedikit di antara mereka berusia 60 tahun ke atas. Sebagian besar memiliki kondisi fisik yang tak cukup kuat. Alhasil, kursi roda menjadi alat bantu yang sangat dibutuhkan.

Misalnya saja jamaah haji kloter 1 Padang. Menurut seorang pimpinan rombongan, dari 360 jamaah yang dibawanya, tak sedikit yang menggunakan kursi roda saat melakukan ibadah tawaf dan sai.

Kursi roda itu disewa dengan nilai yang cukup besar. Tak hanya kursi roda, seorang pendorong juga mesti dibayar tenaganya. Biaya yang dikeluarkan bervariasi mulai dari 200-500 riyal. Di kawasan Makkah banyak jasa pendorong kursi roda.

Kursi roda ini juga amat dibutuhkan saat jamaah haji berada di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Pada Minggu (20/10/2013), banyak jamaah berusia lanjut yang meminta bantuan kursi roda.

Petugas hari Indonesia pun sibuk bergegas mencari kursi roda yang tersedia gratis. "Banyak yang usia lanjut, Mas," kata Susi seorang petugas kesehatan.

Susi dan rekan-rekannya sibuk meminta bantuan kursi roda. Petugas dan juga wartawan juga membantu mendorong kursi roda itu.

"Lucunya, setelah saya antar pakai kursi roda, saya mau dikasih uang sama jamaah yang sudah tua," cerita Gatot, seorang wartawan.

Para jamaah yang sudah berusia lanjut terlihat kelelahan. "Saya capek, cuma tidur sebentar. Makasih ya Nak, sudah diantar," ucap Rosna (72), jamaah asal Padang.

'Ibadah Haji Memang Capek, Tapi Saya Senang'

 detik.feedsportal.com

'Ibadah Haji Memang Capek, Tapi Saya Senang'

Jeddah - Ibadah haji adalah ibadah fisik. Banyak aktivitas yang menuntut ketangguhan fisik jamaah haji. Mulai dari tawaf mengeliling ka'bah, berjalan antara safa dan marwah atau disebut sai, hingga melontar jumrah.

"Tawaf wada kemarin sampai dua jam," kata Rahmad, jamaah kloter 1 asal Jakarta, saat hendak pulang ke tanah air di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Minggu (20/10/2013).

Rahmat mengaku, saat tawaf perpisahan itu tempat tawaf penuh sesak jamaah. Apalagi di dalam rombongan banyak juga yang berusia lanjut.

"Tapi kita semua senang, Alhamdulillah bisa pulang ke Indonesia," kata Rahmat yang diamini temannya, Mukti.

Hal senada juga diamini Susi, jamaah haji asal Padang, Sumbar. Para jamaah banyak yang kurang tidur. Apalagi, tidak ada lagi tempat menginap sementara di Jeddah. Jamaah langsung berangkat dari Makkah ke bandara.

Proses keberangkatan itu membutuhkan waktu yang lama. Di bandara saja, mereka harus sudah sampai pukul 04.00 WIB. "4 Hari ini kurang tidur," terang Susi.

Jamaah yang terbang pada hari ini yakni jamaah kloter satu Jakarta berjumlah 455 orang yang terbang dari Jeddah pukul 07.20 dan menyusul jamaah asal Padang berjumlah 360 yang terbang pukul 09.30 WIB.

Wajah-wajah lelah dan kurang tidur terlihat dari para jamaah yang mengenakan batik hijau ini. Namun semuanya sirna begitu proses pemeriksaan barang dan boarding tiket selesai.

Misalnya saja Rosna, nenek berusia 72 tahun asal Batu Sangkar ini. Dia berharap bisa segera bertemu keluarganya. Kelelahan semua akan terbayar.

"Senang bisa lihat Ka'bah," jelas Rosna dengan senyum. "Keluarga sudah tahu pulang hari ini, nanti dijemput," tambah dia lagi.


Polresta Tangerang akan menjerat pemilik yayasan penyalur pembantu rumah tangga yg digrebek di bintaro tangerang selatan dengan undang2 perlindungan anak.. Saksikan Tayangan lengkapnya di "Reportase Malam" pukul 3.05 WIB Hanya di Trans TV